8 Tahun dari saat ini, jauh sebelum
umurku 23 tahun. Ketika itu umurku baru 5 tahun, perempuan berperawakan badan
besar dengan tinggi tubuh yang bisa dikategorikan pendek. Sendiri menjadikanku
pribadi yang manja, maunya sendiri, semua serba ada, semua harus dituruti,
ambekan, dan berbagai sifat karena merasa sendiri jadi bisa melakukan apapun
sekehendak hati. Namun hal ini hanya berlangsung hingga umurku 6 tahun, sebelum
akhirnya aku dikaruniai seorang adik perempuan dan laki-laki.
Aku dilahirkan dari keluarga biasa,
keluarga sipil, dari seorang rahim perempuan cantik berperawakan anggun
keibuan, berkulit putih bersih, mata sipit dan rambut hitam kelam yang
sehari-harinya mengabdikan diri sebagai seorang pendidik di sekolah dasar. Menghadapi
anak-anak kecil, mengajarkan sesuatu dengan lembut dan menegur dengan tegas
merupakan keahliannya, walaupun berbeda ketika mengajarkan anaknya sendiri. Suami
dari ibu ku, yang jelasnya ayahku adalah sosok pria pekerja keras dan sangat
pintar. Itulah yang aku tahu dari semasa aku kecil, penuh kasih sayang, hal ini
juga karena pengaruh beliau yang basic
nya adalah seorang perawat. Ternyata dalam pertambahan umurku, aku menyadari
ayahku juga seorang pengajar, sama seperti ibuku, mungkin karena itu mereka
cocok, karena kalau melihat fisiknya mereka berdua seperti langit dan bumi. Ketika
aku melihat foto jadulnya Ayahku
berkulit gelap, kurus, muka tirus dan cukup sulit mencari titik terang
ketampanan seorang lelaki. Tetapi aku menyadari kenapa Ibuku kemudian memilih
beliau.
Kembali ke diriku, umur 4 tahun lebih beberapa
bulan aku sudah duduk dibangku Taman Kanak-kanak (TK). Aku sebenarnya pemalu,
tapi di lain waktu bisa saja sangat pemberani. Aku selalu malu untuk memulai dan
menjadi yang paling dahulu. Aku selalu ramah dengan siapapun juga, hal itu
terbawa hingga ssekarang. Namun, aku tidak terlalu banyak mempunyai teman yang
cukup akrab. Di taman kanak-kanak, seingatku aku hanya mempunyai dua orang
teman, yang kemana-mana kita selalu bertiga, semuanya adalah perempuan. Ratih adalah
salah satu dari dua orang tersebut, perempuan berkulit cerah tidak terlalu
putih, tapi sangat bersih, rapi, manis dan cerdas, dikelas dia merupakan salah
satu murid terbaik yang pemberani, sering mengikuti berbagai kompetisi baik itu
gambar, menyanyi, menari dan apapun itu. Satunya lagi bernama Wulandari,
seorang perempuan manis berkulit coklat tapi cukup pemalu, dia tidak terlalu
berbeda denganku, yang tidak terlalu banyak prestasi dikelas, biasa saja
walaupun kami tetap sering aktif terutama dalam hal menari. Ya dari taman
kanak-kanak aku sudah mengikuti berbagai kegiatan menari baik itu lomba maupun
hanya festival saja. Seorang pemalu yang suka menari didepan umum, kepribadian
yang cukup canggung.
Semasa taman kanak-kanak aku ingat bahwa
rumahku selalu ramai, walaupun sebenarnya keluargaku hanya kami bertiga, tetapi
banyak saudara Mama Papa yang selalu
ada dirumah, baik menetap untuk sekolah ataupun kerja, maupun saudara yang
hanya numpang menginap. Dirumah yang kecil seingatku sewaktu itu rumahku hanya
terdiri dari dua kamar tidur, ruang tamu kecil, ruang nonton kecil dan dapur
seadanya, tetapi kami mempunyai halaman yang luas, mungkin bisa dikategorikan
kebun, karena tanah yang sangat luas tersebut mengelilingi rumahku yang kecil. Keluargaku
punya banyak tanaman, baik yang ditani untuk dijual ataupun untuk memenuhi kebutuhan
sendiri. Seingatku kami mempunyai dua petak sawah dan sepetak lahan yang
digunakan menanam semangka, timun, kacang, dan lain-lain, selain itu juga depan
dan belakang rumahku dijadikan kebun ketela umbi yang ditumpang ubi jalar, dan
banyak tanaman seperti nanas, rambutan, kelapa, nangka, cempedak, jambu,
belimbing, pepaya dan lainnya.
Keluargaku tumbuh dan hidup dengan
sangat sederhana, aku ingat untuk makan daging, ayam ataupun ikan itu sesuatu
yang mewah, dan hal tersebut hanya akan didapatkan pada awal bulan saja, sisanya
hanya memanfaatkan hasil kebun yang ada disebelah rumah saja. Aku ingat
bagaimana Mama ku setiap hari dari
Senin hingga Sabtu selalu bangun jam 03.00 pagi, membuat berbagai jajanan yang bahan-bahannya
sudah dipersiapkan malamnya. Dibantu dengan ponakan-ponakannya yang tinggal
dirumah, setiap pagi membuat donat, kacang tojin, es tebu, pempek, dan
lain-lain. Hal yang sungguh aku yakin sangat melelahkan ini, dilakukan hanya
untuk mendapatkan tambahan uang bulanan agar dapur tetap ngebul. Lauk yang
selalu ada dan menjadi penyambung hidup itu sayur daun singkong muda, dan
ternyata itu makanan favoritku semasa kecil, selain jengkol tentunya.
Menjalani kehidupan sederhana, berjalan kaki
jauh kedepan gang untuk mencari angkot
selalu aku dan ibuku lakoni, menyeberangi rawa dan berbecek-becek itu hal yang
biasa dilakukan dalam rutinitas pagi ke sekolah, walaupun terkadang papa ku mengantar kami dengan motor GX
tuanya, jika beliau sedang tidak kebagian jadwal dinas malam di rumah sakit
tempat beliau bekerja. (G-Mv)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar