Jumat, 22 Februari 2013

Taman Kanak-Kanak


8 Tahun dari saat ini, jauh sebelum umurku 23 tahun. Ketika itu umurku baru 5 tahun, perempuan berperawakan badan besar dengan tinggi tubuh yang bisa dikategorikan pendek. Sendiri menjadikanku pribadi yang manja, maunya sendiri, semua serba ada, semua harus dituruti, ambekan, dan berbagai sifat karena merasa sendiri jadi bisa melakukan apapun sekehendak hati. Namun hal ini hanya berlangsung hingga umurku 6 tahun, sebelum akhirnya aku dikaruniai seorang adik perempuan dan laki-laki.
Aku dilahirkan dari keluarga biasa, keluarga sipil, dari seorang rahim perempuan cantik berperawakan anggun keibuan, berkulit putih bersih, mata sipit dan rambut hitam kelam yang sehari-harinya mengabdikan diri sebagai seorang pendidik di sekolah dasar. Menghadapi anak-anak kecil, mengajarkan sesuatu dengan lembut dan menegur dengan tegas merupakan keahliannya, walaupun berbeda ketika mengajarkan anaknya sendiri. Suami dari ibu ku, yang jelasnya ayahku adalah sosok pria pekerja keras dan sangat pintar. Itulah yang aku tahu dari semasa aku kecil, penuh kasih sayang, hal ini juga karena pengaruh beliau yang basic nya adalah seorang perawat. Ternyata dalam pertambahan umurku, aku menyadari ayahku juga seorang pengajar, sama seperti ibuku, mungkin karena itu mereka cocok, karena kalau melihat fisiknya mereka berdua seperti langit dan bumi. Ketika aku melihat foto jadulnya Ayahku berkulit gelap, kurus, muka tirus dan cukup sulit mencari titik terang ketampanan seorang lelaki. Tetapi aku menyadari kenapa Ibuku kemudian memilih beliau.
Kembali ke diriku, umur 4 tahun lebih beberapa bulan aku sudah duduk dibangku Taman Kanak-kanak (TK). Aku sebenarnya pemalu, tapi di lain waktu bisa saja sangat pemberani. Aku selalu malu untuk memulai dan menjadi yang paling dahulu. Aku selalu ramah dengan siapapun juga, hal itu terbawa hingga ssekarang. Namun, aku tidak terlalu banyak mempunyai teman yang cukup akrab. Di taman kanak-kanak, seingatku aku hanya mempunyai dua orang teman, yang kemana-mana kita selalu bertiga, semuanya adalah perempuan. Ratih adalah salah satu dari dua orang tersebut, perempuan berkulit cerah tidak terlalu putih, tapi sangat bersih, rapi, manis dan cerdas, dikelas dia merupakan salah satu murid terbaik yang pemberani, sering mengikuti berbagai kompetisi baik itu gambar, menyanyi, menari dan apapun itu. Satunya lagi bernama Wulandari, seorang perempuan manis berkulit coklat tapi cukup pemalu, dia tidak terlalu berbeda denganku, yang tidak terlalu banyak prestasi dikelas, biasa saja walaupun kami tetap sering aktif terutama dalam hal menari. Ya dari taman kanak-kanak aku sudah mengikuti berbagai kegiatan menari baik itu lomba maupun hanya festival saja. Seorang pemalu yang suka menari didepan umum, kepribadian yang cukup canggung.
Semasa taman kanak-kanak aku ingat bahwa rumahku selalu ramai, walaupun sebenarnya keluargaku hanya kami bertiga, tetapi banyak saudara Mama Papa yang selalu ada dirumah, baik menetap untuk sekolah ataupun kerja, maupun saudara yang hanya numpang menginap. Dirumah yang kecil seingatku sewaktu itu rumahku hanya terdiri dari dua kamar tidur, ruang tamu kecil, ruang nonton kecil dan dapur seadanya, tetapi kami mempunyai halaman yang luas, mungkin bisa dikategorikan kebun, karena tanah yang sangat luas tersebut mengelilingi rumahku yang kecil. Keluargaku punya banyak tanaman, baik yang ditani untuk dijual ataupun untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Seingatku kami mempunyai dua petak sawah dan sepetak lahan yang digunakan menanam semangka, timun, kacang, dan lain-lain, selain itu juga depan dan belakang rumahku dijadikan kebun ketela umbi yang ditumpang ubi jalar, dan banyak tanaman seperti nanas, rambutan, kelapa, nangka, cempedak, jambu, belimbing, pepaya dan lainnya.
Keluargaku tumbuh dan hidup dengan sangat sederhana, aku ingat untuk makan daging, ayam ataupun ikan itu sesuatu yang mewah, dan hal tersebut hanya akan didapatkan pada awal bulan saja, sisanya hanya memanfaatkan hasil kebun yang ada disebelah rumah saja. Aku ingat bagaimana Mama ku setiap hari dari Senin hingga Sabtu selalu bangun jam 03.00 pagi, membuat berbagai jajanan yang bahan-bahannya sudah dipersiapkan malamnya. Dibantu dengan ponakan-ponakannya yang tinggal dirumah, setiap pagi membuat donat, kacang tojin, es tebu, pempek, dan lain-lain. Hal yang sungguh aku yakin sangat melelahkan ini, dilakukan hanya untuk mendapatkan tambahan uang bulanan agar dapur tetap ngebul. Lauk yang selalu ada dan menjadi penyambung hidup itu sayur daun singkong muda, dan ternyata itu makanan favoritku semasa kecil, selain jengkol tentunya.
Menjalani kehidupan sederhana, berjalan kaki jauh kedepan gang untuk mencari angkot selalu aku dan ibuku lakoni, menyeberangi rawa dan berbecek-becek itu hal yang biasa dilakukan dalam rutinitas pagi ke sekolah, walaupun terkadang papa ku mengantar kami dengan motor GX tuanya, jika beliau sedang tidak kebagian jadwal dinas malam di rumah sakit tempat beliau bekerja. (G-Mv)